Significant Others

William Wallace

William Wallace

Film Braveheart adalah film yang membuat saya terkagum-kagum. Bagaimana seorang yang memiliki prinsip keras dan awalnya tidak mau melakukan perang, akhirnya angkat senjata dan menjadi pahlawan. William Wallace adalah seorang petani Skotlandia yang hidup dalam kenyamanan sebagai seorang petani. Dia adalah seorang ‘petani profesional’ yang melakukan pekerjaan sebagai petani dengan sungguh-sungguh. Dia berangkat ke ladangnya pada waktu pagi hari dan kembali menuju rumah pada waktu sore hari.

Sebagai seorang petani profesional, dia tidak peduli dengan keadaan  bangsa yang sedang dijajah oleh Kerajaan Inggris pada waktu itu. Dia terus berusaha di ladangnya dan menjaga mimpinya untuk menjadi petani yang sukses dan menikahi seorang gadis. Pada suatu hari, seorang kerabatnya datang ke rumahnya ketika dia sedang sibuk membetulkan atap rumahnya. Kerabat ini mengatakan bahwa desanya telah habis diamuk oleh si jago merah yang dinyalakan oleh tentara Inggris. Termasuk beberapa orang warga desa menjadi korban kekejaman tentara Inggris.

“Kita harus bangkit melawan kekejaman tentara Inggris itu,” demikian kata kerabat itu kepada William Wallace.

“Apa yang kauharapkan dari seorang petani yang sedang bermimpi untuk menikahi seorang gadis pujaannya?” balas William Wallace.

Sebuah informasi telah diajukan kepada William Wallace dengan harapan dirinya akan turun untuk menyatukan warga Skotlandia dan berusaha untuk mengusir tentara Inggris dari tanah Skotlandia. William Wallace tetap menjaga mimpinya dengan menggugurkan harapan dari kerabatnya itu. Dia tetap ingin menjadi seorang petani dan ingin mewujudkan cita-citanya untuk menikahi gadis pujaannya.

Sementara waktu berjalan, tentara Inggris semakin luas menapakkan kakinya di tanah Skotlandia. Hal ini membuat para bangsawan – yang pada saat itu disebut Tuan Tanah – takut tanahnya akan direbut dan dimiliki oleh Kerajaan Inggris. Untuk mengatasi ketakutan inilah, maka para bangsawan itu mengambil inisiatif untuk mengumpulkan petani-petani yang tinggal di atas tanahnya untuk bergabung dan angkat senjata. Ajakan ini juga sampai di telinga William Wallace. Tapi tetap saja William Wallace menolak ajakan itu dengan berbagai cara. Kemungkinan-kemungkinan terburuk sudah disampaikan oleh para bangsawan kepada William Wallace tentang masa depan tanah Skotlandia jika jatuh ke tangan Kerajaan Inggris. Pada saat itu William Wallace tetap teguh memegang mimpinya dan ingin mewujudkannya.

Tentara Kerajaan Inggris menapak semakin mendekat ke desa tempat William Wallace ini tinggal. Pada saat itu, William Wallace telah mewujudkan mimpinya, yaitu menikah dengan gadis pujaannya. Beberapa hari kemudian datanglah pasukan Kerajaan Inggris ke desa itu, dan melakukan apa yang mereka lakukan seperti desa-desa lain: menjarah, membakar dan mengejar seluruh penduduk desa. Pada saat inilah sebuah perubahan dalam diri William Wallace terjadi. Di depan matanya, dia harus menyaksikan istri yang baru dinikahi itu dibunuh oleh seorang pimpinan tentara Inggris. Melihat hal ini akhirnya William Wallace angkat senjata dan menjadi salah satu pahlawan Skotlandia.

******

Saya kagum dengan film ini. Bagaimana tidak? Akhirnya William Wallace mau juga merubah prinsipnya untuk hidup tenang dan nyaman sebagai pasangan petani di sebuah desa di Skotlandia menjadi seorang patriot Skotlandia. Saya coba mencermati ada tiga hal yang bisa membuat orang untuk berubah.

Pertama, informasi. Informasi tentang kekejaman tentara Inggris sudah diketahui oleh William Wallace dari kerabatnya yang menjadi korban kekejaman tentara Inggris. Namun demi menjaga mimpinya, William Wallace tetap teguh pada pendiriannya untuk menjadi seorang petani yang bercita-cita menikahi gadis pujaannya.

Kedua, ajakan. Ajakan sudah datang dari para bangsawan yang menyertakan analisa masa depan Skotlandia jika jatuh ke tangan Kerajaan Inggris. Namun sekali lagi William Wallace menolak ajakan para bangsawan itu dengan beragam alasan, yang selalu berujung pada mimpinya.

Ketiga, kematian sang istri. Saya menyebutnya sebagai significant others. Hal inilah yang membuat seorang petani akhirnya mengangkat senjata dan menjadi seorang pahlawan perang melawan kekejaman tentara Kerajaan Inggris. Tentang significant others ini bisa siapa saja, kebetulan di film Braveheart ini yang menjadi significant others-nya William Wallace adalah istrinya, orang yang diimpikan selama ini, orang yang sangat dia cintai.

Significant others sendiri bisa berarti orang yang palin berpengaruh dalam kehidupan seseorang, bisa orang tua, pacar, istri, adik, kakak dan orang lain yang berasal dari keluarga maupun di luar keluarga. Yang pasti significant others inilah yang membuat kebanyakan orang berubah. Baik itu secara sikap, sifat dan pemikiran. Tapi pertanyaannya adalah apakah perubahan seseorang itu harus melewati tahap dimana setiap significant others yang dimiliki seseorang harus mengalami tragedi?

Pertanyaannya adalah tidak bisakah informasi dan ajakan dari orang lain membuat kita sedikit berpikir untuk berubah menjadi lebih baik?

Serius, lah!

Malam ini saya pergi ke sebuah rumah yang nantinya akan menjadi tempat saya tinggal di perantauan saya ini. Ketika saya sampai, rumah yang dimaksud memang seperti layaknya sebuah rumah kost, di ruang utama tidak banyak yang bisa dilihat, padahal ruang tamu rumah induk itu cukup luas. Yaa kalau di Jakarta, si empunya rumah pasti telah repot untuk memilih barang apa yang bisa ditaruh di ruang tamu seluas itu. Ruang tamu rumah ini hanya berhiaskan sebuah televisi 14 inch, seperangkat sofa dan mejanya sekalian dan sebuah lemari besar transparan yang isinya seragam tentara lengkap. Mulai dari Pakaian Dinas Harian, Pakaian Dinas Lapangan dan semua aksesori yang biasanya dipakai untuk melengkapi pakaian-pakaian dinas itu.

Kami, saya dan teman saya, duduk di sofa sambil mengobrol dengan si empunya rumah. Harga telah sama-sama cocok dan ini semua adalah sebuah silahturahmi sebelum saya dan teman saya menempati kamar di rumah itu. Saya mendengar setiap ucapan ibu pemilik rumah bercerita tentang segala hal, mulai dari pekerjaannya sampai pada kenangan atas suaminya. Akhirnya saya mengambil sebuah kesimpulan, bahwa yang ada di dalam lemari besar transparan itu adalah milik dari suami si ibu pemilik rumah.

Tiba-tiba teman saya bertanya, “Gung, kalau kamu punya lemari seperti ini, apa yang mau kamu masukkan ke dalamnya?”

Sesaat saya shock juga mendengar pertanyaan itu. Shock karena tidak tahu menjawab apa. Lebih tepatnya pikiran saya mengatakan begini,

“Apa yang menjadi kebanggan saya selama ini dan patut saya pamerkan di ruang tamu rumah saya nanti?”

Saya sendiri tidak tahu apa yang telah menjadi kebanggaan saya selama ini dan patut dibanggakan. Saya seperti sebuah robot yang bekerja dan bekerja di perantauan saya ini, walaupun ada cita-cita pribadi saya yang masih dalam proses dan belum terwujud di perantauan saya ini. Tapi apakah itu sebenarnya cita-cita saya ataukah saya hanya mengadopsi dari cita-cita orang lain atau bahkan saya hanya menjalankan tugas saya, dan menjadikan tujuan akhir dari tugas saya itu sebagai sebuah cita-cita pribadi?

Pertanyaan dalam kepala saya berkembang dan menjadi: Lalu apa tujuan saya sekarang? Wah, ternyata selama ini saya tidak sama sekali hidup. Saya hanya menjalani jalan saya tanpa pernah berusaha untuk menyadari dan belajar dari perjalanan saya yang sudah 29 tahun ini. Beberapa kesalahan yang pernah saya lakukan, berasal dari kelakuan tidak serius saya dalam segala hal, termasuk bekerja. Bisa dibilang akhirnya saya menyadari bahwa saya belum sepenuhnya hidup karena masih belum paham dengan perjalanan hidup saya yang nantinya akan menuntun saya dalam menentukan tujuan saya akan kemana.

Huah hebat sekali lemari besar transparan milik ibu tadi. Memberikan sebuah inspirasi bahwa Tuhan menciptakan saya dengan arti dan maksud di dunia ciptaanNya ini. Lalu kemana saya selama ini? Sibuk bermain dan menganggap enteng hidup ini, karena selalu ada Tuhan yang menyayangi umatnya. Kalau ada musibah, baru saya meratap untuk memohon belas kasihNya. Menurut orang lain itu adalah memperbudak Tuhan. Sudah tahu Dia baik, malah diminta terus tanpa pernah berusaha menjadi lebih serius.

Ah! Serius dikit lah, man!