Tak Sempat Terucap

Saya sempat mengenal seorang pria. Seorang pria bertubuh tinggi dan perawakan yang layaknya orang bule, perut yang membuncit didukung dengan kegemarannya mengkonsumsi minuman beralkohol untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya, anting yang hanya dipakai di salah satu telinganya, dari mulut dan email balasannya tidak ada yang diucapkan selain appreciation, motivation, dan support kepada saya dan sifat yang selalu terbuka selalu mengundang orang yang baru kenal dirinya untuk tampil apa adanya.

“Orangnya asik kok, lo nyantai aja kalo ketemu dia”

begitu teman saya pernah mengatakan ketika saya dijadwalkan untuk bertemu dengan pria ini Desember lalu. Dan dari pertemuan itu, satu yang saya ingat dari dirinya, ketika dia berkata dalam bahasa Inggris (yang kalau diterjemahkan):

“Yaa, saya hanya mengerti sekitar 70% dari penjelasannya”,

katanya kepada teman saya yang mendampingi saya untuk bertemu dengannya sambil tersenyum dan menoleh kepada saya.

Saya hanya sempat bersama dia dua hari pada bulan Desember itu dan saya harus pergi ke suatu tempat dimana saya akan bekerja di bawah supervisinya. Semenjak saat itu, saya hanya berjumpa dengannya lewat telpon atau email selama tiga bulan. Pada saat inilah dia selalu memberikan apresiasi, motivasi dan dukungan atas apa yang telah saya kerjakan dan rencana kerja saya. Yaa terkadang ada juga tugas-tugas tambahan yang kadang bersifat dadakan yang membuat saya harus bekerja ekstra untuk memenuhi tugas dadakan ini.

Ketika saya mendapat kesempatan untuk ke Jakarta selama beberapa hari, saya bertemu dengan dirinya hanya sehari dari seminggu jadwal saya di Jakarta. Dalam pertemuan singkat itu dia tunjukkan perhatian kepada saya dengan ngobrol bersama dan menyediakan waktu kepada saya untuk bercerita. Perhatiannya dia tunjukkan dengan menjadi seorang pendengar yang baik. Sayang hanya sehari saya diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Pada saat itu pria ini sedang sakit, sehingga harus beristirahat di rumahnya di bilangan Selatan Jakarta. Lagi-lagi saya tidak bertemu dengannya.

“Yaa, masih ada lain waktu ketika saya pulang nanti di bulan Juni”,

saya berkata dalam hati. Ternyata tidak sampai bulan Juni, dia malahan mengunjungi saya di sini. Dan dari pertemuan itu, saya lagi-lagi diberikan ide tentang hal-hal apa saja yang bisa saya lakukan untuk melanjutkan pekerjaan saya. Pada saat pertemuan itu, dia baru tahu bahwa saya selama ini tinggal di kantor, alias tidak mencari kamar sewa/kos. Dan karena hal tersebut, dia memanggil saya dengan “Mas OB”.

Bukan hanya itu, dia juga bercerita tentang pengalamannya di berbagai negara untuk menjalankan program psikososial. Hari itu dia bercerita tentang salah satu kebudayaan di Afrika. Dia menceritakan itu dengan detail. Dan hasil diskusi itu bukan hanya ide, tapi juga semangat untuk menjalankan ide itu sesuai dengan yang saya inginkan.

“Wow, wawasan saya sedikit terbuka dengan ceritanya”.

Pada kunjungan inilah saya merasa semakin dekat dengan dirinya. Saya telah menemukan kenyamanan bekerja dengan dia. Dan saya menjadi semakin percaya diri bekerja di bawah supervisinya.

Sore tadi, saya mendengar kabar bahwa pria ini sebentar lagi akan mengakhiri kerjasamanya dengan saya. Saya sangat terpukul mendengar berita mengejutkan ini. Dia adalah investasi bagi organisasi tempat saya bekerja. Banyak sudah yang dia lakukan untuk mengembangkan organisasi ini. Kejadian yang membuat dia harus meninggalkan kami (saya dan teman-teman lain) adalah kejadian yang menurut saya tidak adil sama sekali. Yang saya tahu, dia adalah orang yang membesarkan nama tempat kami bekerja selama ini. Belum lagi pengalamannya yang selalu dia bagikan untuk dijadikan bahan pembelajaran bagi saya dan teman lain.

Tapi yah, apa mau dikata? Palu sudah diketok dan dia harus pergi dari kami dalam hubungan kerjasama. Tapi saya yakin, bahwa dengan sifatnya yang selalu terbuka, dia tidak akan melupakan persahabatan di antara saya dan dirinya walaupun hanya bertemu dalam hitungan jam ini.

Selamat Jalan, Bhava Poudyal!

Advertisements

1 Comment

  1. “Laki-laki pun mempunyai hati”……mungkin begitulah ungkapan gue pribadi, jika mengalami hal tsb!
    Sosok sahabat; guru; ayah; pemimpin dan lain-lain terpancar dari kesederhanaan seseorang terhadap seseorang yang membutuhkannya.
    hikshikshiks……jadi sedih gue gung!
    btw….viva la sketsadinihari, majuterus agung dwibantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s