Ke-Disiplin-An

Ada satu cerita tentang ke-disiplin-an yang saya alami. Kejadiannya kalau dilihat sekilas terkesan lucu. Aneh malah. Tapi kalau dipikir-pikir, yaa benar juga. Kejadian ini berawal dari perut lapar di hari Minggu malam. Saya pun pergi berdua dengan teman saya untuk mengisi perut yang lapar ini. Kami berboncengan naik sepeda motor tanpa helm.

Entah mengapa ada satu kebiasaan di kota Bireuen ini kalau malam, banyak sekali pengendara sepeda motor yang memilih libur menggunakan helm. Dan, sayangnya saya sudah tertular kebiasaan itu. Saya sebagai penumpang, tidak mengingatkan teman saya untuk memakai helm. Makan malam selesai, dan kami memilih untuk menghabiskan malam Senin ini dengan cerita dan ngobrol menghabiskan waktu. Kami pun menuju sebuah tempat yang yaa bisa dibilang sebagai public space-nya Bireuen.

Tanpa ragu kamipun melewati sebuah pos lalu lintas polisi. Seperti yang sudah ditebak, kami diminta untuk berhenti dan sesuai prosedur, kami ditanya tentang surat-surat kendaraan bermotor. Teman saya sebagai pengendara sepeda motor itu langsung menyerahkan semua surat-surat yang diminta. Tapi karena kami tidak memakai helm, kami harus datang ke sebuah meja yang sudah dipenuhi oleh para pelanggar untuk mengambil surat tilang.

Nama teman saya sebagai pengendara sudah dicatat dalam surat tilang, STNK sudah ditahan dan kami siap untuk melanjutkan perjalanan. Tapi sekali lagi kami diminta untuk tidak meninggalkan tempat tanpa helm.

“Kamu mau kemana? Mana helmnya?”

tanya seorang polisi yang bertugas untuk melepaskan kendaraan kami.

Kontan saya bingung. Kami ditilang karena tidak mengenakan helm selagi berkendara dan kami sudah ditilang sebagai hukuman. Tapi ketika kami ingin meninggalkan pos polisi lalu-lintas itu, kami tidak boleh karena kami tidak mengenakan helm.

“Pak, sudah diurus, kami sudah mendapat surat tilang dan STNK kami sudah ditinggalkan. Kami akan menghadiri sidang,”

kata saya kepada polisi tersebut. Tapi kemudian datang polisi lain yang dengan kasar menghardik kami,

“Kamu tidak boleh pergi tanpa helm!”

Saya berusaha menjelaskan sementara teman saya menstarter sepeda motor bersiap untuk pergi. Tapi yang terjadi adalah polisi yang terakhir datang ini mengambil kunci kontak sepeda motor kami dan memaksa kami untuk mengenakan helm.

“Sudah lo naik RBT (ojek) aja, ambil helm terus balik lagi kesini,”

kata saya kepada teman saya. Sebelum teman saya pergi, saya minta surat tilang itu kalau nanti terjadi sesuatu selama teman saya pergi. Sambil menunggu teman saya kembali mengambil helm, saya tidak habis pikir, kenapa untuk meninggalkan pos polisi itu, kami harus mengenakan helm yang tidak kami bawa sejak awal. Dan karena kesalahan ini kami sudah ditilang.

“Hehehe.. mungkin polisi ini sedang mengerjai kami,” kata saya dalam hati.

Tapi ternyata tidak, semua pengendara yang tidak mengenakan helm harus mengambil helm untuk bisa pergi dari pos polisi lalu-lintas itu. Bahkan ada sepasang suami istri harus menunggu lama karena helm sedang dalam perjalanan. Ternyata polisi disini tidak sedang mengerjai kami. Ini adalah sebuah prosedur.

“Saya tidak mengenakan helm, maka polisi lalu-lintas menghukum kami dengan menilang kami dan menahan STNK motor yang kami kendarai. Tapi ketika kami ingin pergi, kami dilarang karena tidak mengenakan helm. Aneh!”

pikiran itu menyerbu ke dalam otak saya. Akhirnya saya mengambil surat tilang di kantong saya dan berusaha mencari kesalahan kami,

“Mungkin kami ditilang bukan karena tidak mengenakan helm, tapi karena hal lain,” pikir saya lagi.

Tapi ternyata, kami ditilang karena tidak mengenakan helm! Waduh tambah aneh lagi nih, pikir saya. Menurut saya mengambil helm di rumah untuk bisa pergi dari pos lalu-lintas polisi ini adalah hukuman lain.

self discipline

Lalu saya teringat dengan sebuah artikel dari koran ibukota tentang ke-disiplin-an. Dalam artikel itu dibilang bahwa ke-disiplin-an adalah sebuah usaha untuk merubah tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dengan memberikan hukuman yang berhubungan dengan tingkah laku yang ingin ‘diciptakan’.

Kalau saya mengambil referensi dari kalimat tersebut, yaa berarti polisi lalu-lintas di Bireuen ini ingin membuat masyarakat Bireuen memiliki kebiasaan berkendara dengan aman. Salah satu caranya adalah dengan ‘menghukum’ pelanggar dengan aktifitas yang akan selalu diingatnya. Kalau dia tidak mengenakan helm, yaa berarti dia harus jauh-jauh kembali ke rumah atau meminjam helm temannya agar motornya bisa dibawa pulang. Memang sebuah hukuman itu harus melibatkan dua buah tujuan, yang pertama adalah efek jera dan kedua adalah berusaha menciptakan tingkah laku baru.

Apa yang dilakukan polisi lalu-lintas Bireuen ternyata sangat efektif. Teman saya akhirnya merasa kesal dan merasa ‘dikerjai’ dengan hukuman harus mengambil helm di rumah tukang ojek agar motornya bisa dibawa pulang. Dan kini dia selalu ingat dengan kejadian itu jika ingin berkendara sepeda motor. Dengan kata lain, dia mengingatkan diri sendiri untuk memakai helm dengan mengingat kejadian hari Minggu malam itu. Ya!

Tidak seperti yang kita lihat lewat tayangan televisi tentang beberapa siswa sebuah institut yang meninggal akibat menerima pukulan atau tendangan atau siksaan fisik lain dengan alasan untuk menegakkan disiplin. Atau pengalaman saya sendiri waktu Sekolah Dasar yang harus berlutut di depan kelas karena mengobrol pada saat pelajaran IPS. Saya berhenti mengobrol – setidaknya pada saat itu – tapi saya tidak mengerti tentang peta buta.

Semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s