Natal dan Kebebasan

Natal datang. Rumah saya telah menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Pohon natal dengan lampu berkelapkelip, hiasan Natal di pintu rumah, kandang Natal yang baru saya beli. Semua hal itu kami siapkan untuk menyambut Natal tahun ini. Menyambut kelahiran Yesus Kristus yang nantinya akan menjadi penebus dunia, yang telah sekian lama dipercaya oleh umat Kristen di seluruh dunia.

Namun beberapa hari terakhir ini kepala saya dipenuhi dengan sebuah pertanyaan. Apakah Natal juga bisa dirayakan secara universal? Oleh mereka yang tidak beragama Kristen, misalnya. Apakah makna universal dari Natal itu sendiri? Itulah alasan mengapa saya menuliskan ini.

Bicara tentang Natal, sesuai dengan artinya adalah kelahiran. Banyak orang yang menyiapkan sebuah kelahiran dengan baik, sangat baik bahkan. Ada yang menyiapkan tempat tidur untuk bayi lengkap dengan kamarnya dan tembok yang berwarnawarni, ada keluarga yang tiba-tiba menjadi pemborong popok bayi atau susu bayi, ada yang sejak jauh hari menabung untuk proses kedatangan sang bayi. Para orang tua berusaha untuk menyiapkan dunia secara sempurna untuk kedatangan sang bayi. Saya sendiri baru saja mendengar kabar tentang banyak kelahiran yang sukses berkat usaha dari orang tua untuk mempersiapkannya. Teman-teman dari orang tua sendiri – termasuk saya – seakan larut dan ikut bahagia atas datangnya seorang manusia.

Kelahiran itu sendiri tidak lengkap jika kita tidak bicara tentang proses penciptaan. Sudut pandang agama telah sepakat, bahwa dunia ini beserta isinya diciptakan oleh Allah. Allah menciptakan dunia sempurna adanya dengan siang-malam, matahari-rembulan, hewan-tumbuhan hingga pada akhirnya Allah menciptakan manusia. Pertanyaannya sekarang, apakah manusia diciptakan untuk melengkapi dunia ciptaan Allah, ataukah Allah menyiapkan dunia secara sempurna terlebih dahulu dan ‘memberikan’ dunia yang sempurna itu kepada manusia?

Premis yang pertama bisa dijabarkan bahwa Allah menciptakan manusia sama seperti ciptaan-ciptaanNya yang lain. Manusia sama seperti tumbuhan, hewan, siang, malam, matahari, rembulan dan ciptaan lainnya. Jika memang Allah menyamakan dengan ciptaan lain, maka manusia bekerja dan terjadi secara otomatis. Jika sudah pagi, matahari muncul, jika remang petang, tandanya rembulan yang menerangi bumi. Jika sudah musimnya, setiap kucing akan mengeong keras-keras – yang kerap mengganggu tidur kita – hanya untuk menarik perhatian lawan jenisnya dan…. kawin. Manusia sama sekali tidak memiliki eksistensinya di bumi ini. Hanya menjalankan apa yang sudah menjadi tugasnya. Manusia merasa semua ‘sudah diatur’ dan merasa tidak lagi perlu berusaha, toh semua sudah tertulis dan diatur. Semua pengalaman yang terjadi kemudian disebut sebagai nasib atau takdir. Bahwa manusia sudah seharusnya hidup seperti apa yang dijalaninya sekarang, tanpa menggali lebih jauh tentang apa itu hidup. Dunia, pengalaman, kehidupan tidak lagi menjadi misteri bagi manusia itu sendiri.

Premis yang kedua bisa dijabarkan bahwa untuk mencapai pada proses kelahiran Allah perlu memikirkan masak-masak tentang kehadiran manusia di dunia. Allah sendiri perlu memastikan bahwa dunia sudah sempurna untuk ‘mengeluarkan’ satu jiwa dari taman firdausNya. Itulah berkah Allah paling sempurna kepada manusia. Setiap manusia mendapatkan satu dunia yang sempurna sejak dia dilahirkan. Sehingga sebuah kelahiran bukanlah sebuah kebetulan. Setiap manusia kemudian membawa sebuah gambaran ideal tentang dunia dan kehidupan itu sendiri. Itulah mengapa, jika manusia mengalami suatu hal yang tidak mengenakkan, manusia akan merasakan sebuah emosi dalam perasaannya. Entah itu sedih, kecewa, marah dan emosi lainnya. Hal-hal seperti itulah dimana Allah meletakkan misteri dari dunia dan kehidupan. Tugas dari setiap manusia lah untuk menemukan dan mewujudkan dunia yang lebih sempurna. Setiap pengalaman memiliki maknanya dan tugas manusia untuk menemukan makna terindah dari pengalaman itu sendiri melalui pikiran dan akal budinya. Disinilah letak kebebasan seorang manusia. Kebebasan untuk berkreasi menciptakan dunia dan kehidupan yang sempurna.

Saya pun masih mencari jawaban tentang dunia yang sempurna ini, mengingat tidak ada kebenaran sejati selain kelahiran dan kematian bukan? Tapi setidaknya saya sudah memiliki pemaknaan sendiri terhadap hari Natal itu sendiri. Natal adalah simbol dari kebesaran Allah dalam memberi berkah kepada manusia melalui proses kelahiran.

SELAMAT NATAL!! SELAMAT MENDAPATKAN KEBEBASAN!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s