Rasa Bersalah

Wahh.. Sudah lama sekali saya tidak mampir menuliskan permaknaan dalam pengalaman hidup ini. Hampir dua tahun,,, DUA TAHUN!! Bukan waktu yang sebentar untuk meninggalkan kebiasaan ini. Bukan artinya saya memiliki kebiasaan baru, tapi yaahh.. apa daya, rutinitas pekerjaan yang membabi buta membuntukan fantasi yang biasa saya gunakan untuk mampir di ruang ini, menimbulkan keengganan untuk melek sampai pagi hanya untuk menuliskan hasil pergumulan diri setiap hari. Tanpa dirasa saya telah menjadi orang yang egois dengan tidak menuliskan hasil pergumulan saya dan menyimpannya untuk diri saya sendiri. Maaf.

Maaf. Sebuah kata untuk menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas kesalahan yang dia perbuat. Atau setidaknya perasaan bersalah yang sedang dia rasakan. Kadang juga ketika kata tersebut keluar dari mulut kita, kita dianggap seorang yang mau mengakui kesalahan atau ‘gentle’ atau ksatria. Dengan tulisan kali ini, saya mau mengajak untuk melihat dari sisi lain manusia yang merasakan perasaan bersalah ini.

Berapa kali kita merasa bersalah atas apa yang telah kita perbuat?

“Aduh, gue ngerasa salah nih, udah bikin dia marah.”

“S*it! Saya sudah membuat kesalahan sehingga ini semua terjadi.”

Ungkapan-ungkapan ini sering kita katakan, curhat-kan, bicarakan dalam hati ketika menganggap diri kita telah membuat seseorang marah, sedih, terganggu secara emosional. Dan biasanya kita akan menyesal telah berbuat demikian. Pertanyaan dan pernyataan yang bersifat evaluatif ini akan membawa kita pada analisa jangka panjang tentang apa yang sudah kita lakukan. Saya adalah salah seorang yang mempunyai sifat evaluatif ini dan belakangan ini telah membuat pernyataan dan pertanyaan yang sama. Hehehe…

Beberapa pengalaman telah membawa saya dalam situasi ini. Situasi perasaan berasalah sampai pada marah pada diri sendiri karena telah melakukan kebodohan. Saya telah berpikir telah melakukan kesalahan dalam pekerjaan saya, saya juga telah merasa telah melakukan kesalahan dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial. Sampai pada suatu titik saya berpikir bagaiamana cara membenarkan apa yang sudah salah ini.

Ungkapan kata ini tidak lain adalah hasil pergumulan karena kita merasa berasalah, bukan dituding melakukan kesalahan. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa saya harus merasa bersalah?

“Bagaimana kalau saya kehilangan pekerjaan?”

“Bagaimana kalau dia tidak mau lagi bicara dengan saya?’

“Bagaimana jika rasa percayanya hilang pada saya?”

Pikiran-pikiran itu langsung menyerbu isi kepala saya, ketika perasaan bersalah itu muncul dan memutar ulang semua kejadian yang menimbulkan perasaan bersalah ini. Satu tekad untuk membenarkan ini semua adalah Meminta Maaf. Pada keadaan. Pada orang lain. Pada diri sendiri. Semata supaya orang lain mau menghapus kesalahan pada diri saya, membebaskan diri saya dari perasaan bersalah dan mau memaafkan saya sehingga tidak perlu terjadi apa yang saya pikirkan. Sebuah konklusi yang EGOIS, bukan? Setidaknya itu yang saya sadari, kawan! Kehilangan apa yang sudah saya raih selama ini. Itu yang saya sadari mendorong saya untuk terus mencari cara untuk meminta maaf.

Dengan konklusi ini saya berharap semua akan kembali baik-baik saja seperti sebelum saya membuat kesalahan. Saya dipastikan tidak akan kehilangan pekerjaan, saya akan kembali bisa berkomunikasi dengan seseorang, rasa percaya seseorang akan kembali pada saya. Betapa EGOIS, bukan? Bahwa rasa bersalah itu hanya meyakinkan saya bahwa saya sedemikian egoisnya untuk melakukan pembetulan atas sikap-sikap saya terhadap sekeliling saya dan apa yang telah saya raih selama ini.

Selamat malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s