Surat Kepada Ibu

Tirza sedang duduk di pinggir tempat tidur rumah sakit dimana Gayatri terbaring sejak seminggu lalu. Dia tatap wajah reyot dan tua yang sedang terpejam itu dengan sesekali menarik napas panjang. Wajah itu terakhir dilihatnya sepuluh tahun lalu sedang menangisi kepergian Tirza yang tidak bisa ditunda lagi. Kepergian yang memisahkan mereka selama sepuluh tahun. Kepergian yang disebabkan adanya sebuah perasaan tertekan karena tidak pernah mendapat tempat di dalam keluarga.

Dalam tidurnya yang sepi dan lengang, Gayatri tidak berhenti melihat putaran sejarah hidupnya yang kini terpampang jelas dalam mimpinya. Mimpi yang muncul dari ketidaksadarannya selama ini. Kini dia tengah melihat gambaran tentang bagaimana dirinya ditinggalkan orang yang sangat dicintainya. Bagaimana dia telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk memberikan cintanya. Hanya cinta yang dia mau berikan, bukan hal lain. Tapi sayang, tidak semua cinta yang diberikan dilihat sebagai semata cinta.

Bayangannya kini menggambarkan dirinya sedang duduk di ruang tamu rumah mewahnya, sedang duduk menunggu dia yang telah pergi untuk pulang kembali. Hari itu tepat seminggu setelah dia ditinggal pergi oleh putrinya entah kemana, setelah pertengkaran hebat malam sebelumnya.

“Andai ayahmu masih disini, dia pasti juga akan melarangmu!”

“Ya, memang kalian terlihat sama dalam hal menentang diriku! Bukan Aryo dan bukan juga Dini!”

“Jangan kau banding-bandingkan apa yang kau terima dari diriku dan ayahmu dengan kakak dan adikmu,” katanya, “tak ada orang tua yang mau anaknya menderita di luar sana,”

“Ibu tidak tahu apa yang sedang aku lakukan, jangan seenaknya menilai orang dari apa yang sedang dia lakukan,” sahut Tirza, “dan jika ibu tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, ibu lebih baik diam saja!”

“Plak!”

Tamparan itu membuat suasana menjadi tidak nyaman bagi siapapun yang berada di ruangan itu bersama dengan mereka. Dan ketidaknyamanan itu dibawa hingga saat ini oleh Gayatri, bahkan hingga mimpinya malam ini.

*****

Perlahan Tirza memainkan jemari ibunya yang sejak tadi digenggamnya. Kulit tua itu sudah lebih berbeda dengan terakhir dia mencium kulit tangan itu. Lebih keriput. Lebih rapuh. Lebih menguarkan aroma luka mendalam dan berkepanjangan. Dia mengenali aroma luka seperti ini, karena dia selalu bersentuhan langsung dengan manusia yang mengalami luka seperti ini. Luka dalam menanti obat yang tak pernah kunjung datang. Luka karena perasaan rindu yang tak pernah terpuaskan. Hanya bisa berharap. Berharap dan terus berharap.

Dalam hati Tirza berkata andai ibunya tahu apa yang dia perjuangkan selama ini. Dia hanya ingin mewujudkan harapan orang-orang yang terus berharap ini. Harapan bahwa suatu saat cinta yang telah direbut dari mereka akan kembali ke dalam pelukan mereka. Harapan agar mereka diberikan kesempatan kedua untuk menjaga buah hati mereka agar tidak direbut oleh mereka dalam demonstrasi mahasiswa 10 tahun yang lalu itu.

Tapi ibu begitu teguh untuk memaksaku terus di dalam rumah.

“Bu, ada lagi mahasiswa yang mati sore tadi. Aku baru menerima kabarnya dari seorang teman. Sekarang aku mau ke Semanggi.”

“Kau baru saja pulang, masih banyak teman lain yang bisa menggantikan tugasmu,” sahut ibu.

“Bu, aku tidak bisa tinggal diam melihat tivi dan mendengar radio tentang teman-temanku yang menjadi sasaran tembak aparat itu.”

“Lalu kau mau datang ke tempat itu? Jangan-jangan kau menjadi korban peluru nyasar.”

“Lalu ibu meminta aku untuk berbuat apa? Berdoa? Apakah tangan Tuhan kini bisa menyentuh hati para tentara itu agar tidak lagi menembaki kami? Jangan-jangan Tuhan memang telah mati, bu.”

Itulah perdebatan terakhir yang Tirza ingat sambil mengelus tangan Gayatri. Perdebatan itu berakhir dengan tamparan yang membuat hatinya terluka dalam. Apa yang dianggapnya benar selama ini, ternyata tidak mendapat dukungan dari orang lain, termasuk ibunya sendiri. Diam-diam dia pergi malam itu juga untuk memungut sisa sejarah yang tergeletak di jalanan.

******

Gambaran dalam mimpi Gayatri kini melayang ke suatu waktu dimana dia tetap menunggu Tirza untuk pulang. Masih terduduk di kursi yang sama, menatap keluar jendela yang sama, mendengarkan suara yang mampir di telinganya, membaui aroma yang masuk ke hidungnya, kulitnya meremang menanti pelukan dari putrinya. Semua indera digunakan untuk mencari tahu apakah putrinya sudah ada di sekitar dirinya. Tiba-tiba bel di rumahnya berdentang. Dia segera lari ke depan pintu siap untuk menyongsong putrinya yang selalu dinantinya.

Ternyata tukang pos yang datang dengan suara lantang menanyakan apakah ini rumah Ibu Gayatri. Segera Gayatri mengambil surat yang diberikan oleh tukang pos itu. Melihat si pengirim, memang putrinya. Harapannya kini adalah putrinya akan segera pulang ke rumah. Dia buka surat itu dan dia baca isinya.

Salam sejahtera Ibu,

Semoga Ibu selalu dalam perlindungan Tuhan yang Maha Esa. Apa kabar ibu, apakah ibu dan keluarga baik-baik saja? Bagaimana dengan Bang Aryo dan Dini, bu? Mereka baik-baik juga bukan? Aku harap begitu. Karena setelah kematian bapak, sudah sewajarnya Bang Aryo menggantikan posisinya, bukan? Kalau tidak begitu, lalu ibu dan Dini siapa yang menjaga?

Aku? Aku baik-baik saja bu. Aku masih sama yang seperti dulu. Paska penyerangan di kampus Semanggi itu, semakin banyak korban hilang bu. Lebih banyak karena korban penculikan. Sekarang aku masih melakukan pendampingan terhadap keluarga korban, entah itu korban penculikan maupun korban penembakan yang dilakukan aparat keamanan Negara.

Mungkin ibu bertanya, mengapa aku melakukan ini, aku jelaskan sekali lagi bu, bahwa aku melakukan ini untuk selalu memberikan harapan kepada keluarga korban tentang kejelasan mengapa anak-anak mereka hingga kini belum juga pulang bu. Walaupun aku juga mempunyai keyakinan bahwa mereka sama sekali tidak akan pulang. Tapi siapa yang menyebabkan ini semua, itu yang akan aku hadapkan kepada semua orang tua yang kehilangan anaknya.

Ibu tidak usah khawatir tentang keselamatanku. Semua teman-temanku siap untuk menolong aku. Kami semua siap saling menolong, bu. Tapi untuk sementara aku tidak akan pulang untuk waktu yang lama demi keselamatan ibu, Bang Aryo dan Dini. Tapi sekali lagi, ibu tidak usah khawatir. Doakan saja agar usahaku dan teman-temanku mencapai apa yang kami harapkan.

Salam Rindu,

Tirza

Gayatri teringat saat itu dia hanya bisa menghela napas panjang selesai membaca surat itu. “Wuk, andai kamu ada disitu saat itu, aku pasti akan melarang kamu habis-habisan untuk melakukan apa yang sedang kamu lakukan itu,” batin Gayatri dalam mimpinya. Entah apa yang kamu bela, Wuk, tapi bagaimana dengan harapan ibu tentang dirimu? Mengapa kamu lebih membela harapan orang lain ketimbang harapan ibumu sendiri? Tidakkah kamu memikirkan itu?

Gayatri juga teringat akan pikirannya yang lain saat kejadian itu. Pada saat itulah pikirannya menjadi terbuka, bahwa anaknya telah menjadi musuh negara.

*****

Tirza kini mengambil tangan ibunya dan mengusapkannya ke pipinya. Tanpa terasa rindu ini telah sedemikian dalamnya, sehingga tanpa terasa pula air hangat mengalir dari matanya dan meleleh di pipinya. Dan sapuan tangan ini, adalah sapuan yang sangat dia rindukan. Sapuan yang selalu mengusir pergi rasa sedih, rasa takut dan membuatnya kembali bersemangat.

Tapi sepuluh tahun yang lalu, dia mengambil keputusan untuk meninggalkan ini semua. Bayangannya kembali pada malam itu, ketika dia kembali ke kampus Semanggi untuk bergabung bersama teman-temannya. Banyak teman-teman yang ketembak, itu yang dia dengar dari beberapa teman yang memang sejak kemarin tidak pulang. Ada yang mati dan banyak yang terluka parah. Mereka menggambarkan dengan kegeraman dan rasa gregetan. Di tengah salakan moncong senapan dan aroma panas gas air mata, berita itu menjadi pemicu rasa kemanusiaan siapapun yang mendengarnya. Hanya saja tidak bisa diungkapkan dengan rasa iba, tidak mungkin. Rasa marah, geram dan kesallah yang keluar pada saat itu.

Tirza tergambar wajah ibunya, seorang wajah ibu yang menanti kepulangan anaknya. Lalu bagaimana ibu-ibu yang menanti kepulangan anaknya yang ternyata baru ketahuan belakangan bahwa anak mereka tidak akan pulang? Siapa yang akan mengabarkan berita ini kepada mereka? Apakah mereka tahu bahwa kejadian ini sangat tidak adil dan melanggar hak asasi manusia? Saat itulah Tirza mengambil keputusan ini, dia akan mendampingi setiap ibu yang kehilangan anaknya karena kebijakan segelintir orang yang memimpin negara untuk mendapatkan keadilan di negeri yang adil dan makmur sejahtera ini.

“Ibu, aku rindu kau selama perjalanan ini,” kata Tirza sambil menyeka air matanya, “tapi aku tidak bisa pulang ke rumah, bu. Mereka selalu memperhatikan aku kemana aku berjalan, mereka selalu menanti saat yang tepat untuk ‘menghilangkan’ aku. Itu resiko yang harus aku hadapi, bu. Dan aku tidak mau ibu, Bang Aryo dan Dini terseret dalam masalah ini, itulah mengapa aku memilih untuk tidak pulang dulu, tidak menelpon, untuk menghilangkan diriku dari keluargaku sendiri,” batin Tirza.

*****

Bayangan Gayatri kembali pada masa-masa penantian pulang Tirza di ruang keluarga. Penantian dengan perasaan khawatir. Kabar tentang Tirza hanya didapatkan dari televisi ketika ada pemberitaan tentang kasus pelanggaran HAM yang sedang diusut oleh Komisi di DPR, dia sendiri lupa Komisi apa. Berita itu menjadi pemicu kekahwatirannya tentang anaknya itu.

Musuh negara? Apa pula artinya ini? Menjadi orang yang dicari-cari oleh negara. Orang jahatkah musuh negara itu? Lalu anakku itu orang jahat? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memenuhi kepala Gayatri disela-sela penantian pulang anaknya. Orang yang menjadi musuh negara biasanya akan berakhir dengan kematian. Apakah aku akan mendapat kabar kalau suatu saat Tirza mati? Atau akan hilang sama seperti korban lain yang sekarang orang tuanya didampingi oleh Tirza?

Betapa beruntungnya orang tua lain. Mereka tidak perlu merasa khawatir seperti ini. Televisi bisa menjadi hiburan yang dapat menghibur mereka tanpa perasaan was-was apakah ada berita tentang anaknya dalam salah satu program acaranya. Mereka bisa tertawa bersama, menangis bersama dan berpelukan bersama ketika melihat acara televisi yang menampilkan kebahagiaan, kesedihan dan berita tentang para selebritis itu. Sedangkan Gayatri semakin takut jika harus melihat tayangan berita di negeri ini yang ditayangkan melalui siaran televisi. Takut jangan-jangan ada berita tentang kematian Tirza. Kemudian dia akan menghabiskan sisa malam menunggu kepulangan Tirza di teras rumah sampai malam datang dan dingin.

Pemberontakkah anakku itu? Pertanyaan itu muncul dalam mimpi Gayatri. Sampai saat dia koma seperti ini, dia tidak menemukan definisi tentang musuh negara. Yang dia tahu, anaknya itu sedang memperjuangkan kebenaran. Alam bawah sadarnya kembali bermain dan muncul perasaan bangga dalam mimpi itu. Bangga bahwa anaknya yang masih muda itu mau peduli dengan orang lain, dengan lingkungannya. Tapi kan masih banyak cara yang bisa dia gunakan untuk menunjukkan bahwa dia peduli dengan lingkungannya, mengapa dia memilih cara ini? Lalu kebenaran.. kebenaran yang seperti apa yang dia perjuangkan?

*****

Tirza mengusap air mata di pipi ibunya yang tidak dia mengerti mengapa mengalir. Dia tersenyum sekali lagi melihat raut wajah rapuh dan tua milik ibunya. Raut wajah ini yang dulu selalu membantunya ketika dia bersedih dan sangat butuh bantuan semangat. Dia sadar, bahwa di sela-sela perjuangannya, dia tidak melulu bahagia, bahkan bisa dibilang selalu mendapat tekanan dari berbagai sudut pandang, terutama mereka yang mengatasnamakan negara. Di saat-saat seperti itulah dia sangat rindu akan nasihat dan pelukan dari ibunya. Entah mengapa semua terasa hilang dan selalu muncul solusi dari semua masalahnya ketika selesai mendapat pelukan dari ibunya.

“Tirza, nama kamu sudah ada di daftar hitam Intel, jadi mulai sekarang kamu harus selalu hati-hati,” begitu kata teman seperjuangannya suatu kali.

Yang pertama kali dia ingat adalah ibunya dan kakak serta adiknya. Berarti dia sudah tidak bisa lagi ngintip memperhatikan ibunya yang duduk di teras rumah setiap malam. Tirza ingat itu kejadian tujuh tahun lalu. Saat itu dia sedang giat-giatnya mencari bukti tentang pelanggaran HAM di negeri ini. Surat pun sudah tidak bisa sesering dulu. Takut temannya yang menjadi kurir dan menyamar sebagai tukang pos ketahuan dan tertangkap.

“Oh Ibu, andai aku bisa meninggalkan apa yang aku lakukan selama ini, pasti kita akan bahagia bersama di rumah peninggalan ayah. Tapi semua itu sudah terlambat, aku sudah tidak bisa lepas dari jurang ini. Sebentar lagi jalanku akan terbuka untuk menyelesaikan ini semua. Semua penjahat akan masuk penjara dan kebenaran sekali lagi akan menang. Dunia Internasional telah mendengarkan suaraku dan aku diminta memberikan presentasi tentang apa yang sedang aku lakukan,” kata Tirza sembari membelai rambut ibunya yang mulai memutih dimakan usia. “Ibu tidak usah khawatir lagi, sebentar lagi kita akan hidup bahagia dan tenteram seperti kebanyakan orang selama ini.”

Atau…

*****

Kejadian ini terjadi seminggu yang lalu, ketika itu Gayatri sedang di depan teras menunggu Tirza pulang. Dua orang datang dan mengaku sebagai teman Tirza.

“Selamat pagi, bu. Benar ini rumah Maria Rasnia Tirza, bu,” kata salah seorang dari mereka.

“Ya benar.”

“Betul ibu adalah ibunya?” yang satu lagi angkat bicara.

“Ya benar,” sahut Gayatri sambil merasa ada yang tidak beres.

“Begini, bu, ibu tahu kan apa yang sedang dilakukan Tirza saat ini? Kami ingin mengabarkan kemungkinan ada kejadian buruk yang menimpa dirinya saat ini. Semalam dia tidak pulang,” kawan yang pertama memberi kabar.

“Sekarang kami permisi dulu, bu,” sahut yang kedua sambil keduanya pergi seakan takut ada yang memperhatikan mereka jika berada terlalu lama disana.

Gayatri kini ditinggalkan dalam keadaan tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian kepalanya berputar. Pulang? Kemana? Rumahnya kan disini. Sudah sepuluh tahun dia tidak pulang. Dan kalian memberikan kabar seperti ini saat aku sudah mulai terbiasa dengan tiadanya Tirza dalam kehidupanku. Kejadian buruk? Seperti apa? Apakah dia mati, atau terluka? Parahkah lukanya? Gayatri ditinggalkan dengan seribu pertanyaan lain yang mengisi kepalanya. Kepalanya terasa pening, pandangannya kabur dan dadanya sesak. Kemudian dia tidak teringat apa-apa lagi. Sempat terdengar suara si Mbok yang sedang menyiram tanaman berteriak,

“Ibu…”

Kemudian semua senyap, sepi dan lengang sampai saat bayangan-bayangan masa lalu dirinya dan Tirza muncul di kepalanya.

*****

“Apa yang sebenarnya terjadi, bu,” kata Tirza yang kini melelehkan air matanya di dada ibunya, “benarkah apa yang kudengar?”

Dua hari yang lalu, Panji seorang teman Tirza mengatakan bahwa ibu Tirza kini sedang berada di rumah sakit. Koma katanya. Menurutnya ada orang yang memberi tahu bahwa Tirza telah mati.

“Jangan kau pergi menjenguk ibumu,” kata mas Willy, “bisa saja ini jebakan agar kau keluar dari sini dan kau akan diciduk sekeluarnya kamu dari rumah sakit.”

“Tapi mas, ini adalah ibuku yang terbaring koma di ruang ICU itu!”

“Ingat perjuanganmu, Tirza. Kalau kamu tidak ada, lalu siapa yang akan pergi ke konferensi dewan internasional itu?”

“Ini sebenarnya yang aku takutkan, mas. Saat keluargaku menjadi korban juga dari perbuatan mereka itu. Saat ini tidak ada yang lebih penting dari keselamatan keluargaku. Selama ini aku bersembunyi agar keluargaku tidak mendapat sengsara, tapi mereka tetap saja mengejar aku lewat keluargaku. Dan ini adalah puncaknya. Biarlah aku setidaknya minta maaf kepada ibuku. Walaupun dia tidak bisa mendengar, aku akan tinggalkan surat untuknya. Tolonglah mas, berikan aku waktu barang dua jam saja. Untuk keluargaku,” pinta Tirza.

“Baik, tapi kamu tidak akan pergi sendirian. Panji dan Leo akan menemanimu.”

Bayangan ini mengingatkan Tirza tentang tujuannya mengapa dia datang malam ini ke rumah sakit ini. Dia selipkan sepucuk surat ke tangan ibunya juga dia lilitkan rosario pemberian ibunya, dia kecup kening ibunya.

“Ibu, maafkan aku. Kutinggalkan engkau bersama Bunda yang selalu menjagai kita.”

Kemudian dia pergi keluar. Kedua temannya sudah tidak ada di depan pintu. Mungkin mereka sudah lebih dulu kembali ke mobil, pikirnya. Dalam perjalanan di halaman parkir, langkahnya berhenti karena dihadang oleh mobil van. Dia sadar akan keadaan dan berusaha membalikkan badan untuk lari dari situ, tapi terlambat, sebuah tangan mencengkeram rambutnya dan perutnya kemudian dia dilemparkan ke bagian belakang van itu, dimana dia melihat Panji dan Leo telah meringkuk tak sadarkan diri. Kemudian yang diingatnya adalah sebuah sepatu lars mengarah ke mukanya dan terdengar teriakan,

“Anjing sialan!”

*****

Aryo dan Dini tiba tidak lama sesudah kejadian itu dan langsung menuju kamar Gayatri, ibu mereka. Mereka pandangi ibunya dan sekujur tubuhnya, ada sepucuk surat dan sebuah rosario di tangan ibunya. Aryo mengambil surat itu dan membacanya.

Salam Sejahtera, Ibu

Ketika ibu membaca surat ini, aku pertama kali ingin mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya karena ibu telah mengalami ini semua. Sesungguhnya pada saat aku menulis surat ini semalam, aku sehat wal’afiat. Entah siapa yang ingin membuat ibu sakit. Jadi maafkan sekali lagi anakmu ini, bu.

Bersamaan dengan ini, saat ibu membaca surat ini, kemungkinan aku sudah benar-benar mati dan ini bukan rekayasa lagi. Mungkin mereka sedang menungguku di luar rumah sakit ini. Menunggu musuh keluar sarang dan membunuhnya. Atau kalau tidak, aku sekarang sedang terbang menuju konferensi dewan internasional untuk melakukan presentasi tentang pelanggaran HAM di negeri ini, dan dengan demikian pekerjaanku setengah dari selesai, karena mata dunia internasional sebentar lagi akan mengarah ke negeri ini, bu. Kebenaran akan terkuak, bu. Tidakkah ibu merasa senang dengan ini semua?

Dan jika aku benar-benar mati, akan kusampaikan salam ibu, Bang Aryo dan Dini kepada Ayah yang sudah lebih dulu tiba. Tapi bagiku kematian bukan akhir dari segalanya bu, setidaknya ada yang menemani diriku disana. Dan ibu serta Bang Aryo dan Dini harus terus menjalani hidup ini. Yang perlu ibu ingat, perjuanganku tidak sia-sia, banyak mata yang kini terbuka dengan apa yang kulakukan selama ini. Sama seperti surat-surat sebelumnya, aku juga mau pamit dan mengatakan bahwa aku tidak akan pulang atau menelpon.

Selamat tinggal, bu dan maafkan aku.

NB: Sampaikan salam kepada Bang Aryo dan Dini bahwa aku mencintai mereka.

Salam Rindu,

Anakmu,

Tirza

Aryo langsung mencengkeram surat itu dalam genggamannya.

“Dari siapa, bang? Dari Mbak Tirza, ya?” tanya Dini.

Aryo tidak menjawab, hanya menarik napas panjang. Hal ini harus segera aku beritahu ke teman-teman bahwa Tirza telah mati dan mereka tidak boleh lolos dari ini semua. Apalagi menjadi presiden.

Jakarta, 19 Nopember 2008

Advertisements