Lelaki di Depan Televisi

lelaki itu masih sering termenung di depan televisi
menanti kabar siapa pemenang kursi
kadang dia tersenyum menyaksikan jalanan berwarnawarni
kadang dia memegang jantungnya melihat kampanye si penyanyi
suatu hari lelaki itu menutup mukanya dengan tudung saji
takut setengah mati
melihat mulut yang bersuara tentang hati nurani
katanya dalam hati:
“asal jangan dia sang pemenang kursi”

Bireuen, 15 Mei ‘09
.adb.

Bangkai

masih ada sisa bangkai anjing merangkaki tulang belakang menyesap cepat dalam kesadaran/bangkai kurban pesta/entah berapa lama terkubur dalam adonan bubur yang menyisa di liang dubur/tak pernah diseka karena memang tak mau.
kini bangkai itu menyesaki kepala dengan gonggongan paraunya/mengingatkan tentang kejadian siang itu /tapi si pembunuh malah bersiap menjadi presiden.

Bireuen, 17 Mei ‘09
.adb.

buku harian

malam ini dia tergeletak disinari terang bulan
merasa ini adalah malam terakhir baginya
dia tahu dia akan mati
dengan kerinduan di setiap lembar

dia kembali membaca beberapa lembar terakhir
terakhir sebelum tiba waktunya
lembarlembar yang berisi kata yang tidak pernah selesai
membentuk kalimat
dia rindu untuk selalu melahirkan kata
dari setiap huruf yang bertutur
tentang hati nurani

sinar bulan masih menyinari sosok yang telah menjadi dingin
malam membekap rindunya dengan kelamnya
menemaninya menyiapkan kematiannya sendiri
sampai akhirnya dia menjadi semakin dingin dan mati
sambil membawa kerinduan bertutur tentang hati nurani

Jakarta, 5 mei 08
.adb.

10 tahun yang lalu

antara lampu jalan dan gerimis tidak tahu harus melapor kepada siapa
tentang mayat mahasiswa yang tertembak sore tadi
tidak ada yang meminta mereka menjadi saksi
dan malam semakin mencekam

gerimis tak pernah meminta
‘tuk jatuh malam itu
lampu jalan sekedar menjalankan tugasnya
‘tuk bersinar malam itu
lampu jalan dan gerimis menyalahkan rembulan
yang hingga malam itu tidak terbit

‘tah siapa yang menjadikan
malam itu semakin mencekam