Single Parent

Awawaw.. Pakai barat-baratan segala judulnya. Tapi bukan berarti saya akan menuliskan tentang orangtua tunggal ini dengan gaya bahasa barat. Bukan karena cinta dengan bahasa Indonesia, tapi memang ndak bisa.

Oke?! Sudah siap? Saya akan bawa kepada pengalaman saya. Mari saya kenalkan pada tokoh yang stu ini. Dia (she) adalah seorang teman yang mengaku diri sebagai orangtua tunggal. Padahal kalau mau melihat kenyataan, gelar ini belum pantas dia sandang. Dia belum juga resmi bercerai, bahwa pada kenyataannya dia masih berlaki – mempunyai suami.

Memang menurut pengakuannya, lakinya sudah tidak menafkahinya lagi semenjak mereka menikah. Kenyataannya sekarang adalah dua orang laki bini ini sudah pisah ranjang, teman saya ini memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya ketimbang harus hidup bersama lakinya. Hmm.. Buat saya hal ini aneh. Tapi itu semua berpulang pada keputusannya. Termasuk hal yang satu ini, memutuskan untuk membesarkan anaknya seorang diri, setidaknya sampai saat ini.

Bukan bermaksud untuk underestimate dia, tapi pengalaman hidup sebelumnya membawa dirinya pada pengalaman yang penuh dengan hedonisme. Berbekal pada kenyataan itu, dia kemudian memilih jalan hidup seperti ini. Dalam pikiran saya, bukan dia yang saya tahu tentang dirinya selama ini. Ataukah nilai-nilai dalam hidupnya sudah berubah? Entah dan saya tidak mau memberikan judgement.

Sebagai seorang orang tua tunggal kini dia bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang IT Solution. Dengan gaji yang tidak seberapa untuk hidup di ibu kota saat ini dia memilih untuk terus menjalani kehidupannya. Bahkan satu kali dia bilang pada saya bahwa dia akan membuat sebuah usaha catering untuk makan siang teman-teman kantornya.

Saya terkejut, ternyata betul bahwa nilai-nilai dalam kehidupannya sudah berkembang dan berubah. Saya membayangkan – sekali lagi bukan untuk underestimate dia – bahwa dia pernah berada di puncak kesuksesan hidupnya dan kini dalam situasi yang berani dia ambil, dia mau berjuang setidaknya untuk membuktikan kepada lakinya bahwa dia bisa dan memiliki kemampuan untuk bertahan hidup. Dan dia berkata bahwa dia melakukan ini semua hanya untuk kebahagiaan anaknya yang baru semata wayang itu.

Go Mom, catch your dream and don’t you ever stop dreaming. Let the future shows Kei how tough you are.

Selamat malam

Rasa Bersalah

Wahh.. Sudah lama sekali saya tidak mampir menuliskan permaknaan dalam pengalaman hidup ini. Hampir dua tahun,,, DUA TAHUN!! Bukan waktu yang sebentar untuk meninggalkan kebiasaan ini. Bukan artinya saya memiliki kebiasaan baru, tapi yaahh.. apa daya, rutinitas pekerjaan yang membabi buta membuntukan fantasi yang biasa saya gunakan untuk mampir di ruang ini, menimbulkan keengganan untuk melek sampai pagi hanya untuk menuliskan hasil pergumulan diri setiap hari. Tanpa dirasa saya telah menjadi orang yang egois dengan tidak menuliskan hasil pergumulan saya dan menyimpannya untuk diri saya sendiri. Maaf.

Maaf. Sebuah kata untuk menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas kesalahan yang dia perbuat. Atau setidaknya perasaan bersalah yang sedang dia rasakan. Kadang juga ketika kata tersebut keluar dari mulut kita, kita dianggap seorang yang mau mengakui kesalahan atau ‘gentle’ atau ksatria. Dengan tulisan kali ini, saya mau mengajak untuk melihat dari sisi lain manusia yang merasakan perasaan bersalah ini.

Berapa kali kita merasa bersalah atas apa yang telah kita perbuat?

“Aduh, gue ngerasa salah nih, udah bikin dia marah.”

“S*it! Saya sudah membuat kesalahan sehingga ini semua terjadi.”

Ungkapan-ungkapan ini sering kita katakan, curhat-kan, bicarakan dalam hati ketika menganggap diri kita telah membuat seseorang marah, sedih, terganggu secara emosional. Dan biasanya kita akan menyesal telah berbuat demikian. Pertanyaan dan pernyataan yang bersifat evaluatif ini akan membawa kita pada analisa jangka panjang tentang apa yang sudah kita lakukan. Saya adalah salah seorang yang mempunyai sifat evaluatif ini dan belakangan ini telah membuat pernyataan dan pertanyaan yang sama. Hehehe…

Beberapa pengalaman telah membawa saya dalam situasi ini. Situasi perasaan berasalah sampai pada marah pada diri sendiri karena telah melakukan kebodohan. Saya telah berpikir telah melakukan kesalahan dalam pekerjaan saya, saya juga telah merasa telah melakukan kesalahan dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial. Sampai pada suatu titik saya berpikir bagaiamana cara membenarkan apa yang sudah salah ini.

Ungkapan kata ini tidak lain adalah hasil pergumulan karena kita merasa berasalah, bukan dituding melakukan kesalahan. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa saya harus merasa bersalah?

“Bagaimana kalau saya kehilangan pekerjaan?”

“Bagaimana kalau dia tidak mau lagi bicara dengan saya?’

“Bagaimana jika rasa percayanya hilang pada saya?”

Pikiran-pikiran itu langsung menyerbu isi kepala saya, ketika perasaan bersalah itu muncul dan memutar ulang semua kejadian yang menimbulkan perasaan bersalah ini. Satu tekad untuk membenarkan ini semua adalah Meminta Maaf. Pada keadaan. Pada orang lain. Pada diri sendiri. Semata supaya orang lain mau menghapus kesalahan pada diri saya, membebaskan diri saya dari perasaan bersalah dan mau memaafkan saya sehingga tidak perlu terjadi apa yang saya pikirkan. Sebuah konklusi yang EGOIS, bukan? Setidaknya itu yang saya sadari, kawan! Kehilangan apa yang sudah saya raih selama ini. Itu yang saya sadari mendorong saya untuk terus mencari cara untuk meminta maaf.

Dengan konklusi ini saya berharap semua akan kembali baik-baik saja seperti sebelum saya membuat kesalahan. Saya dipastikan tidak akan kehilangan pekerjaan, saya akan kembali bisa berkomunikasi dengan seseorang, rasa percaya seseorang akan kembali pada saya. Betapa EGOIS, bukan? Bahwa rasa bersalah itu hanya meyakinkan saya bahwa saya sedemikian egoisnya untuk melakukan pembetulan atas sikap-sikap saya terhadap sekeliling saya dan apa yang telah saya raih selama ini.

Selamat malam.

“ini” dan “anu”, Cermin Perpolitikan Daerah

Baru-baru ini tempat saya bekerja di Kabupaten Raja Ampat, Propinsi Papua Barat baru saja selesai menjalani Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Hawa politik kian memanas dibarengi dengan panasnya tanah Papua ini. Terutama sebulan menjelang hari-H yang disebut masa kampanye. Semua calon mempersiapkan juru kampanye (jurkam) yang terlatih untuk memprovokasi massa agar memilih dirinya. Organisatoris massa mulai mencari celah agar dirinya bisa diangkat menjadi salah satu jurkam dari salah satu kandidat calon Bupati Raja Ampat.

Ada dua calon terkuat yang saling berebut massa untuk mendapatkan kursi Bupati. Sebut saja “ini” dan “anu”. Satu hal yang perlu dicatat adalah “anu” merupakan Bupati terdahulu yang akan diganti pada Pilkada ini. Mulai dari tingkat kampung, tingkat kecamatan sampai tingkat kabupaten (bahkan tingkat propinsi), “ini” dan “anu” saling berebut massa yang entah, apakah mereka menantikan pilkada ini atau hanya euforia demokrasi. Tim sukses dibentuk di setiap kampung di Kabupaten Raja Ampat sebagai pion untuk menjaring massa yang bertebaran.

Tugas tim sukses ini jelas, memastikan bahwa di setiap kampung, mereka harus mendulang sukses yang ukurannya adalah kemenangan dari salah satu kandidat dan mempersiapkan kebutuhan dan keperluan dari setiap jurkam yang dijadwalkan akan datang. Bahu membahu setiap anggota dari setiap tim sukses ini menjalani tugasnya untuk menyambut jurkam dari kandidat yang di-sukses-i. Tapi bagaimana dengan menjaring massa? Mereka tidak tahu cara yang terbaik untuk menjaring massa, walaupun notabene massa yang harus mereka jaring tidak lain adalah tetangga, keluarga dan teman. Yang mereka tahu, kalau jurkam datang, mereka membagi-bagikan uang, kaos dan terakhir memberikan sedikit ‘petuah’ agar memilih kandidat yang membayarnya sebagai jurkam.

Nah, yang berbahaya adalah ketika jurkam menganjurkan masyarakat untuk memilih kandidat. Kadang mereka bukan hanya berbicara program kerja, tapi justru menjelek-jelekkan kandidat lain. Jurkam “ini” bisa saja mengatakan bahwa si “anu” melakukan korupsi sewaktu menjabat sebagai Bupati. Demikian pula sebaliknya, jurkan “anu” menganjurkan untuk memilih “anu” karena sudah terbukti apa yang dikerjakan selama lima tahun ke belakang, sementara calon lain belum tentu mampu mengembangkan Raja Ampat seperti apa yang sudah dilakukan oleh si “anu”. Jurkam “ini” menjelekkan calon “anu”. Jurkam “anu” menjelekkan calon “ini”. Demikian seterusnya. Dan yang parahnya, hal ini ternyata ‘dipelajari’ oleh para tim sukses. Mereka melihat bahwa menjelekkan lawan politik adalah sah-sah saja dalam sebuah perebutan suara. Maka cara-cara ini juga lah yang mereka gunakan untuk mendulang sukses sebagai tim sukses. Mereka mulai saling menjatuhkan, mereka mulai saling menjelekkan, mereka mulai saling bermusuhan, mereka mulai tidak saling tegur-sapa, mereka mulai saling membenci. Karena satu alasan: kandidat yang mereka bela. Mereka tidak menerima jika kandidat mereka dijelek-jelekkan. Mereka merasa bahwa kandidat mereka adalah satu-satunya hal yang penting pada saat itu. Efek buruk lainnya adalah mereka sampai mengorbankan masa depan mereka. Sampai ada yang berkata begini, “Kami pendukung “ini” akan menjadi penonton setia selama lima tahun jika “anu” menang.” Kalimat ini ingin mengatakan bahwa mereka siap untuk tidak menikmati program pembangunan selama lima tahun. Dan hal tersebut sudah siap menjadi kenyataan di Raja Ampat.

Perselisihan ini sayangnya tidak hanya terjadi pada saat masa kampanye, tapi terus terjadi setelah PILKADA selesai. Mereka tidak sadar bahwa yang mereka sikut adalah teman, tetangga dan keluarga mereka sendiri. Mereka tidak sadar bahwa orang yang pertama membantu mereka jika terjadi kesusahan adalah orang yang mereka sikut itu. Mereka tidak sadar bahwa si “ini” dan “anu” tidak akan menangis jika ada anggota keluarga yang, yaa katakanlah, meninggal dunia. Yang mereka sadari hanyalah bahwa saya telah menjadi tim sukses “ini” atau “anu” dan mereka harus menang, bagaimanapun caranya.

Saya jadi berpikir, apa yang telah terjadi dengan masyarakat ini? Menurut saya, secara positif politik telah merambah ke seluruh dimensi masyarakat, termasuk masyarakat kecil yang ada di tanah Papua ini. Dari sepak terjang para tim sukses, terlihat bahwa mereka sangat bersemangat untuk menjadi salah satu aktor perpolitikan dalam negeri, dalam hal ini politik daerah. Namun kurangnya pendidikan membuat masyarakat ini tidak tahu apa yang mereka perbuat. Akhirnya mereka coba untuk belajar dari para jurkam yang datang ke desa. Disinilah bencana datang. Mereka salah belajar. Jurkam hanya mementingkan bagaimana cara untuk mendapatkan suara banyak tanpa memikirkan efek samping dari apa yang mereka lakukan. Semua orang yang tergabung dalam tim sukses melakukan pola yang sama dalam menjaring massa.

Pertama, mereka menjelek-jelekkan kandidat lain yang secara tidak langsung menyinggung tim sukses dari kandidat yang dimaksud. Bayangkan masyarakat mendapat hasutan untuk tidak memilih “ini” atau untuk tidak memilih “anu”. Masyarakat dipenuhi informasi yang menghasut dan merasa begah dengan segala macam hasutan, karena mereka mendengarnya tiap hari. Selain hasutan, mereka juga mendengar janji-janji politik, hingga kedua tim sukses membuat surat pernyataan bahwa jika “ini” menang di satu kampung, maka hak atas pembangunan akan diatur oleh tim sukses “ini”. Menurut saya ini adalah efek samping dari proses pembelajaran yang salah, yang telah saya ceritakan di atas. Mereka merasa berhak atas hak pembangunan yang idealnya diatur untuk seluruh masyarakat Raja Ampat, siapapun yang memenangkan kursi Bupati.

Masyarakat semakin terjerumus dalam politik praktis yang salah. Kemudian saya ingat beberapa berita media massa yang menceritakan telah terjadi kerusuhan di suatu daerah terkait dengan PILKADA. Apakah kita kemudian bangsa Indonesia sudah siap atau belum untuk menjalankan demokrasi? Atau malahan menjadi demokrasi yang kebablasan?

Natal dan Kebebasan

Natal datang. Rumah saya telah menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Pohon natal dengan lampu berkelapkelip, hiasan Natal di pintu rumah, kandang Natal yang baru saya beli. Semua hal itu kami siapkan untuk menyambut Natal tahun ini. Menyambut kelahiran Yesus Kristus yang nantinya akan menjadi penebus dunia, yang telah sekian lama dipercaya oleh umat Kristen di seluruh dunia.

Namun beberapa hari terakhir ini kepala saya dipenuhi dengan sebuah pertanyaan. Apakah Natal juga bisa dirayakan secara universal? Oleh mereka yang tidak beragama Kristen, misalnya. Apakah makna universal dari Natal itu sendiri? Itulah alasan mengapa saya menuliskan ini.

Bicara tentang Natal, sesuai dengan artinya adalah kelahiran. Banyak orang yang menyiapkan sebuah kelahiran dengan baik, sangat baik bahkan. Ada yang menyiapkan tempat tidur untuk bayi lengkap dengan kamarnya dan tembok yang berwarnawarni, ada keluarga yang tiba-tiba menjadi pemborong popok bayi atau susu bayi, ada yang sejak jauh hari menabung untuk proses kedatangan sang bayi. Para orang tua berusaha untuk menyiapkan dunia secara sempurna untuk kedatangan sang bayi. Saya sendiri baru saja mendengar kabar tentang banyak kelahiran yang sukses berkat usaha dari orang tua untuk mempersiapkannya. Teman-teman dari orang tua sendiri – termasuk saya – seakan larut dan ikut bahagia atas datangnya seorang manusia.

Kelahiran itu sendiri tidak lengkap jika kita tidak bicara tentang proses penciptaan. Sudut pandang agama telah sepakat, bahwa dunia ini beserta isinya diciptakan oleh Allah. Allah menciptakan dunia sempurna adanya dengan siang-malam, matahari-rembulan, hewan-tumbuhan hingga pada akhirnya Allah menciptakan manusia. Pertanyaannya sekarang, apakah manusia diciptakan untuk melengkapi dunia ciptaan Allah, ataukah Allah menyiapkan dunia secara sempurna terlebih dahulu dan ‘memberikan’ dunia yang sempurna itu kepada manusia?

Premis yang pertama bisa dijabarkan bahwa Allah menciptakan manusia sama seperti ciptaan-ciptaanNya yang lain. Manusia sama seperti tumbuhan, hewan, siang, malam, matahari, rembulan dan ciptaan lainnya. Jika memang Allah menyamakan dengan ciptaan lain, maka manusia bekerja dan terjadi secara otomatis. Jika sudah pagi, matahari muncul, jika remang petang, tandanya rembulan yang menerangi bumi. Jika sudah musimnya, setiap kucing akan mengeong keras-keras – yang kerap mengganggu tidur kita – hanya untuk menarik perhatian lawan jenisnya dan…. kawin. Manusia sama sekali tidak memiliki eksistensinya di bumi ini. Hanya menjalankan apa yang sudah menjadi tugasnya. Manusia merasa semua ‘sudah diatur’ dan merasa tidak lagi perlu berusaha, toh semua sudah tertulis dan diatur. Semua pengalaman yang terjadi kemudian disebut sebagai nasib atau takdir. Bahwa manusia sudah seharusnya hidup seperti apa yang dijalaninya sekarang, tanpa menggali lebih jauh tentang apa itu hidup. Dunia, pengalaman, kehidupan tidak lagi menjadi misteri bagi manusia itu sendiri.

Premis yang kedua bisa dijabarkan bahwa untuk mencapai pada proses kelahiran Allah perlu memikirkan masak-masak tentang kehadiran manusia di dunia. Allah sendiri perlu memastikan bahwa dunia sudah sempurna untuk ‘mengeluarkan’ satu jiwa dari taman firdausNya. Itulah berkah Allah paling sempurna kepada manusia. Setiap manusia mendapatkan satu dunia yang sempurna sejak dia dilahirkan. Sehingga sebuah kelahiran bukanlah sebuah kebetulan. Setiap manusia kemudian membawa sebuah gambaran ideal tentang dunia dan kehidupan itu sendiri. Itulah mengapa, jika manusia mengalami suatu hal yang tidak mengenakkan, manusia akan merasakan sebuah emosi dalam perasaannya. Entah itu sedih, kecewa, marah dan emosi lainnya. Hal-hal seperti itulah dimana Allah meletakkan misteri dari dunia dan kehidupan. Tugas dari setiap manusia lah untuk menemukan dan mewujudkan dunia yang lebih sempurna. Setiap pengalaman memiliki maknanya dan tugas manusia untuk menemukan makna terindah dari pengalaman itu sendiri melalui pikiran dan akal budinya. Disinilah letak kebebasan seorang manusia. Kebebasan untuk berkreasi menciptakan dunia dan kehidupan yang sempurna.

Saya pun masih mencari jawaban tentang dunia yang sempurna ini, mengingat tidak ada kebenaran sejati selain kelahiran dan kematian bukan? Tapi setidaknya saya sudah memiliki pemaknaan sendiri terhadap hari Natal itu sendiri. Natal adalah simbol dari kebesaran Allah dalam memberi berkah kepada manusia melalui proses kelahiran.

SELAMAT NATAL!! SELAMAT MENDAPATKAN KEBEBASAN!!

Ke-Disiplin-An

Ada satu cerita tentang ke-disiplin-an yang saya alami. Kejadiannya kalau dilihat sekilas terkesan lucu. Aneh malah. Tapi kalau dipikir-pikir, yaa benar juga. Kejadian ini berawal dari perut lapar di hari Minggu malam. Saya pun pergi berdua dengan teman saya untuk mengisi perut yang lapar ini. Kami berboncengan naik sepeda motor tanpa helm.

Entah mengapa ada satu kebiasaan di kota Bireuen ini kalau malam, banyak sekali pengendara sepeda motor yang memilih libur menggunakan helm. Dan, sayangnya saya sudah tertular kebiasaan itu. Saya sebagai penumpang, tidak mengingatkan teman saya untuk memakai helm. Makan malam selesai, dan kami memilih untuk menghabiskan malam Senin ini dengan cerita dan ngobrol menghabiskan waktu. Kami pun menuju sebuah tempat yang yaa bisa dibilang sebagai public space-nya Bireuen.

Tanpa ragu kamipun melewati sebuah pos lalu lintas polisi. Seperti yang sudah ditebak, kami diminta untuk berhenti dan sesuai prosedur, kami ditanya tentang surat-surat kendaraan bermotor. Teman saya sebagai pengendara sepeda motor itu langsung menyerahkan semua surat-surat yang diminta. Tapi karena kami tidak memakai helm, kami harus datang ke sebuah meja yang sudah dipenuhi oleh para pelanggar untuk mengambil surat tilang.

Nama teman saya sebagai pengendara sudah dicatat dalam surat tilang, STNK sudah ditahan dan kami siap untuk melanjutkan perjalanan. Tapi sekali lagi kami diminta untuk tidak meninggalkan tempat tanpa helm.

“Kamu mau kemana? Mana helmnya?”

tanya seorang polisi yang bertugas untuk melepaskan kendaraan kami.

Kontan saya bingung. Kami ditilang karena tidak mengenakan helm selagi berkendara dan kami sudah ditilang sebagai hukuman. Tapi ketika kami ingin meninggalkan pos polisi lalu-lintas itu, kami tidak boleh karena kami tidak mengenakan helm.

“Pak, sudah diurus, kami sudah mendapat surat tilang dan STNK kami sudah ditinggalkan. Kami akan menghadiri sidang,”

kata saya kepada polisi tersebut. Tapi kemudian datang polisi lain yang dengan kasar menghardik kami,

“Kamu tidak boleh pergi tanpa helm!”

Saya berusaha menjelaskan sementara teman saya menstarter sepeda motor bersiap untuk pergi. Tapi yang terjadi adalah polisi yang terakhir datang ini mengambil kunci kontak sepeda motor kami dan memaksa kami untuk mengenakan helm.

“Sudah lo naik RBT (ojek) aja, ambil helm terus balik lagi kesini,”

kata saya kepada teman saya. Sebelum teman saya pergi, saya minta surat tilang itu kalau nanti terjadi sesuatu selama teman saya pergi. Sambil menunggu teman saya kembali mengambil helm, saya tidak habis pikir, kenapa untuk meninggalkan pos polisi itu, kami harus mengenakan helm yang tidak kami bawa sejak awal. Dan karena kesalahan ini kami sudah ditilang.

“Hehehe.. mungkin polisi ini sedang mengerjai kami,” kata saya dalam hati.

Tapi ternyata tidak, semua pengendara yang tidak mengenakan helm harus mengambil helm untuk bisa pergi dari pos polisi lalu-lintas itu. Bahkan ada sepasang suami istri harus menunggu lama karena helm sedang dalam perjalanan. Ternyata polisi disini tidak sedang mengerjai kami. Ini adalah sebuah prosedur.

“Saya tidak mengenakan helm, maka polisi lalu-lintas menghukum kami dengan menilang kami dan menahan STNK motor yang kami kendarai. Tapi ketika kami ingin pergi, kami dilarang karena tidak mengenakan helm. Aneh!”

pikiran itu menyerbu ke dalam otak saya. Akhirnya saya mengambil surat tilang di kantong saya dan berusaha mencari kesalahan kami,

“Mungkin kami ditilang bukan karena tidak mengenakan helm, tapi karena hal lain,” pikir saya lagi.

Tapi ternyata, kami ditilang karena tidak mengenakan helm! Waduh tambah aneh lagi nih, pikir saya. Menurut saya mengambil helm di rumah untuk bisa pergi dari pos lalu-lintas polisi ini adalah hukuman lain.

self discipline

Lalu saya teringat dengan sebuah artikel dari koran ibukota tentang ke-disiplin-an. Dalam artikel itu dibilang bahwa ke-disiplin-an adalah sebuah usaha untuk merubah tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dengan memberikan hukuman yang berhubungan dengan tingkah laku yang ingin ‘diciptakan’.

Kalau saya mengambil referensi dari kalimat tersebut, yaa berarti polisi lalu-lintas di Bireuen ini ingin membuat masyarakat Bireuen memiliki kebiasaan berkendara dengan aman. Salah satu caranya adalah dengan ‘menghukum’ pelanggar dengan aktifitas yang akan selalu diingatnya. Kalau dia tidak mengenakan helm, yaa berarti dia harus jauh-jauh kembali ke rumah atau meminjam helm temannya agar motornya bisa dibawa pulang. Memang sebuah hukuman itu harus melibatkan dua buah tujuan, yang pertama adalah efek jera dan kedua adalah berusaha menciptakan tingkah laku baru.

Apa yang dilakukan polisi lalu-lintas Bireuen ternyata sangat efektif. Teman saya akhirnya merasa kesal dan merasa ‘dikerjai’ dengan hukuman harus mengambil helm di rumah tukang ojek agar motornya bisa dibawa pulang. Dan kini dia selalu ingat dengan kejadian itu jika ingin berkendara sepeda motor. Dengan kata lain, dia mengingatkan diri sendiri untuk memakai helm dengan mengingat kejadian hari Minggu malam itu. Ya!

Tidak seperti yang kita lihat lewat tayangan televisi tentang beberapa siswa sebuah institut yang meninggal akibat menerima pukulan atau tendangan atau siksaan fisik lain dengan alasan untuk menegakkan disiplin. Atau pengalaman saya sendiri waktu Sekolah Dasar yang harus berlutut di depan kelas karena mengobrol pada saat pelajaran IPS. Saya berhenti mengobrol – setidaknya pada saat itu – tapi saya tidak mengerti tentang peta buta.

Semoga bermanfaat.

Tak Sempat Terucap

Saya sempat mengenal seorang pria. Seorang pria bertubuh tinggi dan perawakan yang layaknya orang bule, perut yang membuncit didukung dengan kegemarannya mengkonsumsi minuman beralkohol untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya, anting yang hanya dipakai di salah satu telinganya, dari mulut dan email balasannya tidak ada yang diucapkan selain appreciation, motivation, dan support kepada saya dan sifat yang selalu terbuka selalu mengundang orang yang baru kenal dirinya untuk tampil apa adanya.

“Orangnya asik kok, lo nyantai aja kalo ketemu dia”

begitu teman saya pernah mengatakan ketika saya dijadwalkan untuk bertemu dengan pria ini Desember lalu. Dan dari pertemuan itu, satu yang saya ingat dari dirinya, ketika dia berkata dalam bahasa Inggris (yang kalau diterjemahkan):

“Yaa, saya hanya mengerti sekitar 70% dari penjelasannya”,

katanya kepada teman saya yang mendampingi saya untuk bertemu dengannya sambil tersenyum dan menoleh kepada saya.

Saya hanya sempat bersama dia dua hari pada bulan Desember itu dan saya harus pergi ke suatu tempat dimana saya akan bekerja di bawah supervisinya. Semenjak saat itu, saya hanya berjumpa dengannya lewat telpon atau email selama tiga bulan. Pada saat inilah dia selalu memberikan apresiasi, motivasi dan dukungan atas apa yang telah saya kerjakan dan rencana kerja saya. Yaa terkadang ada juga tugas-tugas tambahan yang kadang bersifat dadakan yang membuat saya harus bekerja ekstra untuk memenuhi tugas dadakan ini.

Ketika saya mendapat kesempatan untuk ke Jakarta selama beberapa hari, saya bertemu dengan dirinya hanya sehari dari seminggu jadwal saya di Jakarta. Dalam pertemuan singkat itu dia tunjukkan perhatian kepada saya dengan ngobrol bersama dan menyediakan waktu kepada saya untuk bercerita. Perhatiannya dia tunjukkan dengan menjadi seorang pendengar yang baik. Sayang hanya sehari saya diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Pada saat itu pria ini sedang sakit, sehingga harus beristirahat di rumahnya di bilangan Selatan Jakarta. Lagi-lagi saya tidak bertemu dengannya.

“Yaa, masih ada lain waktu ketika saya pulang nanti di bulan Juni”,

saya berkata dalam hati. Ternyata tidak sampai bulan Juni, dia malahan mengunjungi saya di sini. Dan dari pertemuan itu, saya lagi-lagi diberikan ide tentang hal-hal apa saja yang bisa saya lakukan untuk melanjutkan pekerjaan saya. Pada saat pertemuan itu, dia baru tahu bahwa saya selama ini tinggal di kantor, alias tidak mencari kamar sewa/kos. Dan karena hal tersebut, dia memanggil saya dengan “Mas OB”.

Bukan hanya itu, dia juga bercerita tentang pengalamannya di berbagai negara untuk menjalankan program psikososial. Hari itu dia bercerita tentang salah satu kebudayaan di Afrika. Dia menceritakan itu dengan detail. Dan hasil diskusi itu bukan hanya ide, tapi juga semangat untuk menjalankan ide itu sesuai dengan yang saya inginkan.

“Wow, wawasan saya sedikit terbuka dengan ceritanya”.

Pada kunjungan inilah saya merasa semakin dekat dengan dirinya. Saya telah menemukan kenyamanan bekerja dengan dia. Dan saya menjadi semakin percaya diri bekerja di bawah supervisinya.

Sore tadi, saya mendengar kabar bahwa pria ini sebentar lagi akan mengakhiri kerjasamanya dengan saya. Saya sangat terpukul mendengar berita mengejutkan ini. Dia adalah investasi bagi organisasi tempat saya bekerja. Banyak sudah yang dia lakukan untuk mengembangkan organisasi ini. Kejadian yang membuat dia harus meninggalkan kami (saya dan teman-teman lain) adalah kejadian yang menurut saya tidak adil sama sekali. Yang saya tahu, dia adalah orang yang membesarkan nama tempat kami bekerja selama ini. Belum lagi pengalamannya yang selalu dia bagikan untuk dijadikan bahan pembelajaran bagi saya dan teman lain.

Tapi yah, apa mau dikata? Palu sudah diketok dan dia harus pergi dari kami dalam hubungan kerjasama. Tapi saya yakin, bahwa dengan sifatnya yang selalu terbuka, dia tidak akan melupakan persahabatan di antara saya dan dirinya walaupun hanya bertemu dalam hitungan jam ini.

Selamat Jalan, Bhava Poudyal!

Pick Moment Lewat Secangkir Kopi

kopi1-1Hari ini, seperti hari-hari yang lain, saya meminta tolong kepada office boy atau office man ya mengingat usianya yang sudah tua, untuk membelikan saya kopi. Seperti biasa, dia pergi dengan sepedanya dan kembali sambil membawa sekantung plastik kopi. Setelah itu biasanya dia akan menyiapkan secangkir untuk saya, secangkir untuk teman saya dan secangkir untuk dia sendiri. Lalu kami akan duduk bersama sambil ngobrol di sebuah jambo (balai-balai) yang didirikan di depan kantor.

Biasanya dia akan bercerita tentang pengalamannya sewaktu dia menjadi ABK (Anak Buah Kapal) sebuah kapal pesiar dan perjalanannya mengelilingi dunia. Kemudian seperti biasa, dia akan memamerkan kemampuan bahasa dari setiap negara yang pernah didatanginya. Mulai dari bahasa Inggris, bahasa Yunani, bahasa Italia dan berbagai bahasa lagi yang saya sudah lupa. Namun sayangnya dia hanya bisa melafalkan satu kalimat saja yang artinya dalam bahasa Inggris adalah “I Love You”. Mungkin karena tidak ada kerjaan lain di negeri orang, makanya beliau ini lebih baik merayu perempuan-perempuan pelabuhan di negara yang bersangkutan. Kalau sudah begini ceritanya, biasanya saya dan teman saya hanya sibuk mendengarkan dan melontarkan guyonan-guyonan yang membuat kami biasanya akan tertawa bersama.

Sama seperti siang ini, saya, teman saya dan bapak ‘ob’ pun sudah bersiap untuk menghabiskan waktu bersama di balai-balai seperti biasanya. Tanpa ditanya dan disangka-sangka, bapak ‘ob’ itu tiba-tiba berkata,

“Saya jengkel!”

Ketika ditanya mengapa, tanpa ada maksud menjawab, dia melanjutkan umpatannya,

“Kalau tahu bukan anaknya yang buat, lebih baik tadi saya beli di tempat lain”

katanya sambil memandang kopi yang baru diseruputnya. Di kumisnya yang sudah memutih terlihat jejak kopi yang menghitam. Saya bertanya dalam hati,

Apa yang salah dengan kopi ini?

Akhirnya dia menjelaskan. Begini kira-kira katanya,

“Minum kopi kalau tidak enak seperti ini akan membuat saya jengkel. Karena dalam sehari saya minum kopi hanya tiga gelas sehari, saya ingin sekali saat itu adalah saya bisa menikmati kopi yang enak rasanya. Bukan kopi dengan rasa seperti ini.”

Kontan saya terkejut mendengar ini. Seingat saya, rasa kopi di sini sama saja. Tidak ada bedanya. Hanya kadang campuran kopi dan airnya yang berbeda. Kalau di Jawa saya biasa menyebut untuk kopi yang terlalu encer dengan ‘Kopi Sindang – Kopine sitik, wedange sedandang (kopinya sedikit airnya sedandang)’. Benar saja, ketika saya seruput, saya tidak merasakan bedanya dengan kopi saring ala Aceh yang lainnya. Sama saja. Tapi mengapa bapak ‘ob’ ini bisa membedakannya, ya?

Saya pun kemudian berpikir bahwa apa yang diucapkan oleh bapak ‘ob’ itu sebenarnya menarik. Dia merasa kesal jika waktu yang dibuangnya untuk meminum kopi tidak bisa dia nikmati alias ditemani kopi tidak enak. Kalau saya, yaa asal ada kopi, ya ngopi. Apakah menurut saya kopi itu enak atau tidak, itu tidak pernah saya pikirkan. Bapak ‘ob’ ini mempunyai sesuatu yang sangat dihargai, hingga dia harus membuang sebagian waktunya, yaitu saat dia minum kopi. Dan dia tidak ingin waktu ini terbuang dengan percuma sambil menikmati kopi yang rasanya tidak enak. Mungkin dari pengalamannya selama ini, dia menganggap minum kopi adalah pick moment of the day-nya beliau. Walaupun hanya sekedar minum kopi yang menjadi pick moment of the day-nya beliau, tapi saya menjadi lebih kagum lagi atas dirinya dan pengalamannya, selain telah menjelajahi dunia ketika masih jadi ABK dulu.

Wah terima kasih bapak ‘ob’, anda telah membuka penglihatan saya menjadi lebih terang. Dengan bertanya,

“Lalu apa yang menjadi pick moment saya?”
Jangan-jangan belum ada. Atau lebih bagus lagi belum menyadarinya.

Sekali lagi terima kasih, bapak ‘ob’.