“ini” dan “anu”, Cermin Perpolitikan Daerah

Baru-baru ini tempat saya bekerja di Kabupaten Raja Ampat, Propinsi Papua Barat baru saja selesai menjalani Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Hawa politik kian memanas dibarengi dengan panasnya tanah Papua ini. Terutama sebulan menjelang hari-H yang disebut masa kampanye. Semua calon mempersiapkan juru kampanye (jurkam) yang terlatih untuk memprovokasi massa agar memilih dirinya. Organisatoris massa mulai mencari celah agar dirinya bisa diangkat menjadi salah satu jurkam dari salah satu kandidat calon Bupati Raja Ampat.

Ada dua calon terkuat yang saling berebut massa untuk mendapatkan kursi Bupati. Sebut saja “ini” dan “anu”. Satu hal yang perlu dicatat adalah “anu” merupakan Bupati terdahulu yang akan diganti pada Pilkada ini. Mulai dari tingkat kampung, tingkat kecamatan sampai tingkat kabupaten (bahkan tingkat propinsi), “ini” dan “anu” saling berebut massa yang entah, apakah mereka menantikan pilkada ini atau hanya euforia demokrasi. Tim sukses dibentuk di setiap kampung di Kabupaten Raja Ampat sebagai pion untuk menjaring massa yang bertebaran.

Tugas tim sukses ini jelas, memastikan bahwa di setiap kampung, mereka harus mendulang sukses yang ukurannya adalah kemenangan dari salah satu kandidat dan mempersiapkan kebutuhan dan keperluan dari setiap jurkam yang dijadwalkan akan datang. Bahu membahu setiap anggota dari setiap tim sukses ini menjalani tugasnya untuk menyambut jurkam dari kandidat yang di-sukses-i. Tapi bagaimana dengan menjaring massa? Mereka tidak tahu cara yang terbaik untuk menjaring massa, walaupun notabene massa yang harus mereka jaring tidak lain adalah tetangga, keluarga dan teman. Yang mereka tahu, kalau jurkam datang, mereka membagi-bagikan uang, kaos dan terakhir memberikan sedikit ‘petuah’ agar memilih kandidat yang membayarnya sebagai jurkam.

Nah, yang berbahaya adalah ketika jurkam menganjurkan masyarakat untuk memilih kandidat. Kadang mereka bukan hanya berbicara program kerja, tapi justru menjelek-jelekkan kandidat lain. Jurkam “ini” bisa saja mengatakan bahwa si “anu” melakukan korupsi sewaktu menjabat sebagai Bupati. Demikian pula sebaliknya, jurkan “anu” menganjurkan untuk memilih “anu” karena sudah terbukti apa yang dikerjakan selama lima tahun ke belakang, sementara calon lain belum tentu mampu mengembangkan Raja Ampat seperti apa yang sudah dilakukan oleh si “anu”. Jurkam “ini” menjelekkan calon “anu”. Jurkam “anu” menjelekkan calon “ini”. Demikian seterusnya. Dan yang parahnya, hal ini ternyata ‘dipelajari’ oleh para tim sukses. Mereka melihat bahwa menjelekkan lawan politik adalah sah-sah saja dalam sebuah perebutan suara. Maka cara-cara ini juga lah yang mereka gunakan untuk mendulang sukses sebagai tim sukses. Mereka mulai saling menjatuhkan, mereka mulai saling menjelekkan, mereka mulai saling bermusuhan, mereka mulai tidak saling tegur-sapa, mereka mulai saling membenci. Karena satu alasan: kandidat yang mereka bela. Mereka tidak menerima jika kandidat mereka dijelek-jelekkan. Mereka merasa bahwa kandidat mereka adalah satu-satunya hal yang penting pada saat itu. Efek buruk lainnya adalah mereka sampai mengorbankan masa depan mereka. Sampai ada yang berkata begini, “Kami pendukung “ini” akan menjadi penonton setia selama lima tahun jika “anu” menang.” Kalimat ini ingin mengatakan bahwa mereka siap untuk tidak menikmati program pembangunan selama lima tahun. Dan hal tersebut sudah siap menjadi kenyataan di Raja Ampat.

Perselisihan ini sayangnya tidak hanya terjadi pada saat masa kampanye, tapi terus terjadi setelah PILKADA selesai. Mereka tidak sadar bahwa yang mereka sikut adalah teman, tetangga dan keluarga mereka sendiri. Mereka tidak sadar bahwa orang yang pertama membantu mereka jika terjadi kesusahan adalah orang yang mereka sikut itu. Mereka tidak sadar bahwa si “ini” dan “anu” tidak akan menangis jika ada anggota keluarga yang, yaa katakanlah, meninggal dunia. Yang mereka sadari hanyalah bahwa saya telah menjadi tim sukses “ini” atau “anu” dan mereka harus menang, bagaimanapun caranya.

Saya jadi berpikir, apa yang telah terjadi dengan masyarakat ini? Menurut saya, secara positif politik telah merambah ke seluruh dimensi masyarakat, termasuk masyarakat kecil yang ada di tanah Papua ini. Dari sepak terjang para tim sukses, terlihat bahwa mereka sangat bersemangat untuk menjadi salah satu aktor perpolitikan dalam negeri, dalam hal ini politik daerah. Namun kurangnya pendidikan membuat masyarakat ini tidak tahu apa yang mereka perbuat. Akhirnya mereka coba untuk belajar dari para jurkam yang datang ke desa. Disinilah bencana datang. Mereka salah belajar. Jurkam hanya mementingkan bagaimana cara untuk mendapatkan suara banyak tanpa memikirkan efek samping dari apa yang mereka lakukan. Semua orang yang tergabung dalam tim sukses melakukan pola yang sama dalam menjaring massa.

Pertama, mereka menjelek-jelekkan kandidat lain yang secara tidak langsung menyinggung tim sukses dari kandidat yang dimaksud. Bayangkan masyarakat mendapat hasutan untuk tidak memilih “ini” atau untuk tidak memilih “anu”. Masyarakat dipenuhi informasi yang menghasut dan merasa begah dengan segala macam hasutan, karena mereka mendengarnya tiap hari. Selain hasutan, mereka juga mendengar janji-janji politik, hingga kedua tim sukses membuat surat pernyataan bahwa jika “ini” menang di satu kampung, maka hak atas pembangunan akan diatur oleh tim sukses “ini”. Menurut saya ini adalah efek samping dari proses pembelajaran yang salah, yang telah saya ceritakan di atas. Mereka merasa berhak atas hak pembangunan yang idealnya diatur untuk seluruh masyarakat Raja Ampat, siapapun yang memenangkan kursi Bupati.

Masyarakat semakin terjerumus dalam politik praktis yang salah. Kemudian saya ingat beberapa berita media massa yang menceritakan telah terjadi kerusuhan di suatu daerah terkait dengan PILKADA. Apakah kita kemudian bangsa Indonesia sudah siap atau belum untuk menjalankan demokrasi? Atau malahan menjadi demokrasi yang kebablasan?

Advertisements