Single Parent

Awawaw.. Pakai barat-baratan segala judulnya. Tapi bukan berarti saya akan menuliskan tentang orangtua tunggal ini dengan gaya bahasa barat. Bukan karena cinta dengan bahasa Indonesia, tapi memang ndak bisa.

Oke?! Sudah siap? Saya akan bawa kepada pengalaman saya. Mari saya kenalkan pada tokoh yang stu ini. Dia (she) adalah seorang teman yang mengaku diri sebagai orangtua tunggal. Padahal kalau mau melihat kenyataan, gelar ini belum pantas dia sandang. Dia belum juga resmi bercerai, bahwa pada kenyataannya dia masih berlaki – mempunyai suami.

Memang menurut pengakuannya, lakinya sudah tidak menafkahinya lagi semenjak mereka menikah. Kenyataannya sekarang adalah dua orang laki bini ini sudah pisah ranjang, teman saya ini memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya ketimbang harus hidup bersama lakinya. Hmm.. Buat saya hal ini aneh. Tapi itu semua berpulang pada keputusannya. Termasuk hal yang satu ini, memutuskan untuk membesarkan anaknya seorang diri, setidaknya sampai saat ini.

Bukan bermaksud untuk underestimate dia, tapi pengalaman hidup sebelumnya membawa dirinya pada pengalaman yang penuh dengan hedonisme. Berbekal pada kenyataan itu, dia kemudian memilih jalan hidup seperti ini. Dalam pikiran saya, bukan dia yang saya tahu tentang dirinya selama ini. Ataukah nilai-nilai dalam hidupnya sudah berubah? Entah dan saya tidak mau memberikan judgement.

Sebagai seorang orang tua tunggal kini dia bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang IT Solution. Dengan gaji yang tidak seberapa untuk hidup di ibu kota saat ini dia memilih untuk terus menjalani kehidupannya. Bahkan satu kali dia bilang pada saya bahwa dia akan membuat sebuah usaha catering untuk makan siang teman-teman kantornya.

Saya terkejut, ternyata betul bahwa nilai-nilai dalam kehidupannya sudah berkembang dan berubah. Saya membayangkan – sekali lagi bukan untuk underestimate dia – bahwa dia pernah berada di puncak kesuksesan hidupnya dan kini dalam situasi yang berani dia ambil, dia mau berjuang setidaknya untuk membuktikan kepada lakinya bahwa dia bisa dan memiliki kemampuan untuk bertahan hidup. Dan dia berkata bahwa dia melakukan ini semua hanya untuk kebahagiaan anaknya yang baru semata wayang itu.

Go Mom, catch your dream and don’t you ever stop dreaming. Let the future shows Kei how tough you are.

Selamat malam